Makalah Filsafat



BAB I
PENDAHULUAN
A.       LATAR BELAKANG
Kata filsafat  berasal dari kata philosophia. philo berarti cinta dan sophia  berarti hikmah ,dan oleh karena itu :philosophia berarti cinta  akan hikmah atau cinta kebenaran. (AL FAROBI)
Sedangkan  arti dari filsafat itu sendiri adalah ‘’ingin mengerti dengan mendalam ‘’atau ‘’cinta pada kebijaksanaan .Dan dalam ilmu filsafat  terdapat beberapa aliran-aliran ,diantaranya adalah POSITIFISME .Yang  dimaksud degan Positifisme ialah aliran yang berpendirian  bahwa filsafat itu hendaknya semata-mata mengenai dan berpangkal pada peristiwa-periatiwa positif ,artinya peristiwa-peristiwa yang di alami manusia.
B.        RUMUSAN MASALAH
            Dalam uraian di atas kami dapat  menyimpulkan beberapa masalah sebagai berikut
1.      Defenisi  filsafat
2.      Dari mana asal dan gagasan positivisme logis
3.      Aliran filsafat Positifisme
4.      Apa yang dimaksud dengan positivisme didalam ilmu pengetahuan

C.        TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui teori tentang kebenaran
2. Mengetahui dan memahami apa itu asal dan gagasan positivisme logis
3. Memahami tentang positivisme di dalam ilmu pengetahuan









BAB II
PEMBAHASAN

A.       Pengertian Filsafat
1.        Filsafat Secara Etimologi
Sebagaimana kita telah ketahui bersama bahwa pengertian dari filsafat itu  adalah suatu usaha untuk berfikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berfikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.Dan HAROLD H.TITUS dalam bukunya living issues in philosophy mencatat  beberapa definisi mengenai filsafat yang baik kita kutipkan di bawah ini.
Kata filsafat, yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah falsafah dan dalam bahasa Inggris dengan istilah Philosophy yang biasanya diterjemahkan sebagai “cinta kearifan”. Kata tersebut juga berasal dari bahasa Yunani philosophia. Kata philosophia terdiri atas kata philein yang berarti cinta (love) atau philos yang berarti mencintai,menghormati, menikmati, dan Sophia atau sofein yang artinya kehikmatan, kebenaran, kebaikan, kebenaran atau kebijaksanaan. Jadi arti menurut namanya saja : cinta kepada kebijaksanaan.
Dalam bahasa Belanda didapati perkataan “Wijsbegeerte”. Wijs, berarti cakap, pandai atau bijaksana. Begeerte, adalah nama benda atau pekerjaan. Begeren, mengandung arti “menghendaki sekali” atau “ingin sekali”. Jadi “Wijs begeerte” berarti :”kemauan yang keras untuk mendapatkan kecakapan seseorang yang bijaksana”, yang biasanya dinamakan “Wijs” (orang yang bijaksana).
Orang Arab memindahkan kata Yunani philosophia ke dalam bahasa mereka dengan menyesuaikan dengan tabiat susunan kata-kata Arab, yaitu falsafa dengan pola fa’lala, fa’lalah dan fi’lal. Dengan demikian, kata benda dari kata kerja falsafa dan filsaf. Dalam bahasa Indonesia, banyak terpakai kata filsafat. Ini kelihatannya bukan berasal dari kata bahasa Arab, falsafah dan bukan dari kata Barat, philosophi. Apakah fil diambil dari kata Barat dan safah dari kata Arab sehingga terjadilah  gabungan antara keduanya dan menimbulkan kata filsafat. Dengan demikian, maka philosophia (Yunani) berarti cinta kepada pengetahuan atau hikmah (cinta dalam kebijaksanaan orang yang cinta kepada pengetahuan disebut “philosophos” atau failasuf dengan ucapan Arabnya). Pencinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya. Dengan kata lain, orang yang mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.
Menurut catatan sejarah, kata ini pertama kali digunakan oleh Pythagoras, seorang filosof Yunani yang hidup pada 582-496 SM. Cicero (106-43 SM), seorang penulis Romawi terkenal pada zamannya yang sebagian karyanya masih dibaca pada zaman sekarang, mencatat bahwa kata “filsafat” dipakai Pythagoras sebagai reaksi terhadap kaum cendekiawan pada masanya yang menamakan dirinya ‘ahli pengetahuan’. Pythagoras menyatakan bahwa pengetahuan itu begitu luas dan begitu berkembang. Tiada seorang pun yang mungkin mencapai ujungnya apalagi menguasainya. Jadi, jangan sombong menjuluki diri kita ‘ahli’ dan ‘menguasai’ ilmu pengetahuan, apalagi kebiaksanaan. Paling tinggi kita ini, kata Pythagoras, yang banyak menyusun dan menemukan rumus-rumus ilmu yang jitu dan diakui hingga zaman modern, adalah pencari dan pecinta pengetahuan dan kebijaksanaan yakni filosofis.
Jelas sekarang dalam konteks bagaimana kata ini pertama kali muncul. Apa yang dimaksudkan Pythagoras. Walaupun bagaimanapun, diabaikan dan diselewengkan oleh banyak pihak terutama oleh kaum ‘sophist’ (seakan merekalah yang paling tahu dan bijaksana) yang mempergunakan kefasihan bahasa dan keahlian bersilat lidah untuk meyakinkan masyarakat dan merebut pengaruh atau bahkan memprovokasi massa untuk berbuat demi kepentingan si provokator.
Yang lebIh dikenal mempergunakan kata ini untuk suatu pencarian kebijaksanaan adalah filosof terkenal Socrates (470-399 SM). Socrates tidak saja terkenal karena pemikirannya yang brilian, tetapi lebih karena ia banyak mengajukan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya kepada siapa saja yang dijumpainya membuat banyak orang bertanya-tanya sebagian orang menjadi lebih arif, lebih sadar diri, lebih pintar, tetapi ada yang merasa disudutkan dan dicemoohkan. Oleh sebagian penguasa dan tokoh masyarakat, pertanyaan-pertanyaan Scocrates dianggap berbahaya, subversif dan provokatif. Pertanyaannya yang menyadarkan banyak membuat generasi muda menjadi ragu terhadap status quo, murtad dan memberontak.
Ia, filosof sang penyadar ini, kemudian diadili dan dijatuhi hukuman mati, bukan ditembak atau digantung, tetapi dengan minum racun. Ketika tidak ada yang tega menyodorkan piala berisi racun kepadanya, ia rela menegaknya sendiri demi menunjukkan bahwa ia filosof yang agung, seorang yang cinta kebijaksanaan dan benci kemunafikan dan kejahilan (seharusnya kita bersyukur karena tidak harus berkorban seperti Scocrates untuk bisa cinta ilmu-kebijaksanaan dan benci kemunafikan-kejahilan).

2.        Filsafat secara Terminologi
Berdasarkan hasil telaah, sejak zaman Yunani Kuno sampai dengan sekarang, pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang demikiannya. Hasbullah bakry telah mencatat beberapa definisi ilmu filsafat dari filosof-filosof terkenal baik di Barat dan Timur.
a.        W.P MONTAGUE, “philosophy is the atempt to give a reasoned conception of the universe and of man’s place in it.” (filsaafat ialah usaha memberi suatu konsep akliah tentang alam semesta serta tempat manusia di dalamnya).
b.        J. A. LEIGHTON, berkata bahwa “a complete philosophy include a world-view, or reasoned conception of  the whole cosmos, and a life-view, or doctrin of values, meaning, and purpose of human life.” (suatu filsafat yang lengkap mencakup suatu pandangan dunia, atau konsep akliah tentang keseluruhan kosmos, dan suatu pandangan hidup atau doktrin, nilai-nilai, makna-makna dan tujuan hidup manusia).
c.         PLATO ( 427-348 SM ). Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang murni (asli).
d.        ARISTETOLES ( 382-322 SM ). Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafatkeindahan).
e.        DESCATES ( 1590-1650 M ). Mendefinisikan filsafat sebagai kumpulan ilmu pengetahuan termasuk di dalamnya Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
f.          IMMANUAL KANT ( 1724-1804 M ). Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan.
Sepatutnya, kita memberikan catatan mengenai penggunaan istilah ilmu atau ilmu pengetahuan untuk pengertian umum filsafat. Saat ini, filsafat dan ilmu atau ilmu pengetahuan merupakan dua hal berbeda. Sedikit penjelasan dapat dikemukakan, bahwa sebelum tahun 1500-an, semua wacana disebut filsafat, setidaknya di Yunani. Orang yang sedang berbicara tentang ilmu bumi atau masalah jual beli pun disebut sedang berfilsafat. Karena pada dasarnya adalah mencari kebenaran. Setelah zaman filsafat modern yang dipelopori Descartes dan John Locke terdapat perbedaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan.
Selanjutnya di bawah ini kita kemukakan pula beberapa definisi filsafat menurut tokoh-tokoh kita yang berkecimpung dalam lapangan filsafat sebagai berikut:
a.      Hasbullah bakri merumuskan filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam, semesta alam, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakekat ilmu filsafat dapat dicapai oleh akal manusia dan bagaimana seharusnya sikap manusia setelah mencapai pengetahuan itu.
b.      I.R Poedjaewijatna menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang mencapai sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu yang ada dan yang mungkln ada.
Dari sekian banyak definisi yang dikemukakan di atas pada prinsipnya tidaklah bertentangan satu dengan yang lainnya, bahkan dapat dikatakan sama, hanya saja terdapat perbedaan dalam cara penekanannya/mengesahkannya.
Secara praktis, filsafat dapat diartikan dalam beberapa bentuk berikut:
a.        Filsafat berarti ilmu yang menyelidiki fakta-fakta prinsip-prinsip dari kenyataan (reality) dan dari tabiat dan tingkah laku manusia.
b.        Filsafat dewasa, ini diartikan ilmu yang meliputi Logika, Etika, Estetika, Matafisika dan ilmu pengetahuan (Epistemologi).
c.         Filsafat kadang-kadang diartikan pula suatu sikap terhadap aktifitas seseorang.
Lebih jauh, Hasbullah Bakry memberikan arti praktis dari filsafat. Ia menyatakan bahwa filsafat adalah alam berfikir atau alam fikiran. Berfilsafat berarti berfikir. Meskipun begitu tidak semua berfikir berarti filsafat. Berfilsafat adalah berfikir secara mendalam dan dengan sungguh-sungguh.
Jelaslah sudah bahwa filsafat itu tidak hanya sebagai semboyan saja tanpa penyelidikan/pembahasan yang sungguh-sungguh, filsafat menggunakan rasio sebagai alat untuk tujuan kebahagiaan manusia dan bukanlah manusia diperalat oleh rasio.
B. Pengertian Positivisme
Teori Positivisme Logikal adalah suatu aliran filsafat yang mengalami banyak perubahan mendasar dalam perjalanan sejarahnya. Istilah Positivisme pertama kali digunakan oleh Francis Biken seorang filosof berkebangsaan Inggris. Ia berkeyakinan bahwa tanpa adanya pra asumsi, komprehensi-komprehensi pikiran dan apriori akaltidak boleh menarik kesimpulan dengan logika murni maka dari itu harus melakukan observasi atas hukum alam. Istilah ini kemudian juga digunakan oleh Agust Comte dan dipatok secara mutlak sebagai tahapan paling akhir sesudah tahapan-tahapan agama dan filsafat. Agust Comte berkeyakinan bahwa makrifat-makrifat manusia melewati tiga tahapansejarah: pertama, tahapan agama dan ketuhanan, pada tahapan ini untukmenjelaskan fenomena-fenomena yang terjadi hanya berpegang kepada kehendak Tuhan atau Tuhan-Tuhan; tahapan kedua, adalah tahapan filsafat, yang menjelaskan fenomena-fenomena dengan pemahaman-pemahaman metafisika seperti kausalitas, substansi dan aksiden, esensidan eksistensi; dan adapun Positivisme sebagai tahapan ketiga, menafikan semua bentuk tafsir agama dan tinjauan filsafat serta hanyamengedepankan metode empiris dalam menyingkap fenomena-fenomena.Pada tahun 1930 M, istilah Positivisme berubah lewat kelompok lingkaran Wina menjadi Positivisme Logikal, dengan tujuan menghidupkan kembali prinsip tradisi empiris abad ke 19. Lingkaran Wina menerima pengelompokan proposisi yang dilakukan Hume dengan analitis dan sintetis, dan berasaskan ini kebenaran proposisi-proposisi empiris dikategorikan bermakna apabila ditegaskan dengan penyaksian dan eksperimen, dan proposisi-proposisi metafisika yang tidak dapat di eksprimenkan maka dikategorikan sebagai tidak bermakna dan tidak memiliki kebenaran. Kesimpulan pandangan ini adalah agama dan filsafat(proposisi-proposisi agama dan filsafat) ambiguitas dan tidak bermakna, karena menurut kaum positivisme syarat suatu proposisi memiliki makna adalah harus bersifat analitis, yakni predikat diperoleh dari dzat subyek kemudian dipredikasikan atas subyek itu sendiri dan kebenarannya lahir dari proposisi itu sendiri serta pengingkarannya menyebabkan kontradiksi, atau mesti bersifat empiris, yakni melalui proses observasi dan pembuktian. Dengan demikian, sebagaimana ungkapan Kornop salahseorang anggota dari Lingkaran Wina  dalam suatu risalah berjudul "Menolak metafisika dengan analisis logikal teologi", kalimat-kalimat yang mengungkapkan perasaan (affective), seperti: alangkah indahnya cuaca! Atau pertanyaan, seperti: Di manakah letak kota Qum? Atau kalimat-kalimat perintah, metafisika dan agama, karena kalimat-kalimat dan proposisi-proposisi tersebut tidak melewati proses observasi dan eksprimen maka serupa dengan proposisi-proposisi yang tidak benar (bohong) Kaum Positivisme, seiring dengan perjalanan waktu, mengubah pandangannya yang ekstrim dan perlahan-lahan tidak menegaskan kemestian pembuktian dan eksperimen dalam menguji kebenaran suatu proposisi dan bahkan eksprimen tidak lagi dijadikan tolak ukur kebenaran proposisi. Mereka menyadari bahwa jika tolak ukur kebenaran (memiliki makna) proposisi-proposisi adalah melewati proses pembuktian dan eksperimen, maka sangat banyak proposisi-proposisi empiris yang tidak akan bermakna (tidak benar), karena tidak dapat dibuktikan secara yakin(100%). Mazhab filsafat ini dalam bagian lain mengakui bahwa manusia tidak mampu menyingkap hakikat realitas dalam bentuk pembuktian, penegasan, dan bahkan pembatalan, tetapi hanya sebatas pemuasan akal. Kesimpulan dari semua pandangan kaum Positivisme adalah bahwa proposisi-proposisi agama yang karena tidak melewati observasi dan eksprimen maka tidak dikategorikan sebagai makrifat dan pengetahuan yang bermakna dan bahasa agama karena tidak dapat dibuktikan kebenarannya secara eksprimen, maka tidak menjadi makna yang dapat diperhitungkan.

C. Aliran Filsafat Positifisme
            Pada abad ke 19 timbullah filsafat yang disebut positifisme yang diturunkan dari kata “positif”. Filsafat ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang factual, yang positif. Segala u  raian dan persoalan yang di luar apa yang ada sebagai fakta atau kenyataan dikesampingkan. Oleh karena itu, meta fisika ditolak. Apa yang kita ketahui secara positif adalah segala yang tampak, segala gejala. Demikianlah positifisme membatasi filsafat dan ilmu pengetahuan kepada bidang gejala-gejala saja. Apa yang dapat kita lakukan ialah: segala fakta, yang menyajikan diri kepada kiota sebagai penamp[akan atau gejala, kita terima seperti apa adanya. Sesudah itu kita berusaha untuk mengatur fakta-fakta tadi menurut hokum tertentu; akhirnya dengan berpangkal kepada hokum-hukum yangtelah ditemukan tadi kita mencoba melihat ke masa depan, kea pa yang akan tampak sebagai gejala dan menyesuaikan diri sdengannya. Arti segala ilmu pengetahuan ialah: mengetahui untuk dapat melihat ke masa depan. Jadi kita hanya dapat mengatakan atau menkonstatir fakta-faktanya, dan menyelidiki hubungan-hubungannya yang satu dengan yang lain. Maka tiada gunanya untuk menanyakan kepada hakikatnya atau kepada seba-sebab yang sebenarnya dari gejala-gejala itu.
            Filsafat positifisme diantarkan oleh AUGUST COMTE (1798-1857), yang dilahirkan di Montpellier pada tahun 1798 dari keluarga pegawai negri yang beragama katolik. Karyanya yang pokok, sistematis adalah cours de philosophy positive, atau “kurusus tentang filsafat positif” (1830-1842) yang diterbitkan dalam enam jilid.
            Menurut Comte, perkembangan pemikirean manusia berlangsung dalam tiga tahap atau tiga zaman, yaitu zaman teoligis, zaman meta fisis dan zaman ilmiah atau zaman positif. Perkembangan yang demikian itu berlaku baik bagi perkembangan pemikiran perorangan, maupun bagi perkembangan pemikiran seluruh umat manusia.
1.      Pada zaman atau tahap teologis orang mengarahkan rohnya kepada hakikat “batiniah” segala sesuatu, kepada “ sebab pertama” dan “tujuan terakhir” segala sesuatu. Jadi orang masih percaya kepada kemungkinan adanya pengetahuan  atau pengenalan yang mutlak. Oleh karena itu orang berusaha memilikinya . orang yakin, bahwa dibelakang tiap kejadian tersirat suatu pernyataan kehendak yang secara khusus. Pada taraf pemikiran ini terdapat lagi tiga tahap, yaitu :
a.      Tahap yang paling bersahaja atau primitive, ketika orang menganggap, bahwa segala benda berjiwa(animisme).
b.      Tahap ketika orang menurunkan kelompok-kelompok hal-hal tertentu seluruhnya masing-masing diturunkannya dari suatu kekuatan adikodrati, yang melatar belakanginya, edemikian rupa, sehingga tiap kawasan gejala-gejala memiliki dewa-dewanya sendiri (politeisme).
c.       Tahap yang tertinggi, ketika orang mengganti dewa yang bermacam-macam itu dengan satu tokoh tertinggi, yaitu dalam monoteisme.
2.      Zaman yang kedua, yaitu zaman metafisika, sebenarnya hanya mewujudkan suatu perubahan saja dari zaman teologis. Sebab kekuatan-kekuatan yang adikodrati atau dewa-dewa hanya diganti dengan kekuatan-kekuatan yang abstrak, dengan pengertian – pengertian, atau dengan pengada-pengada yang lahiriah, yang kemudian dipersatukan dalam sesuatu yang bersifat umum, yang disebut alam, dan yang dipandang sebagai asal segala penampakan atau segala khusus.
3.      Zaman positif adalah zaman ketika orang tahu, bahwa tiada gunanya untuk berusaha mencapai pengenalan atau pengetahuan yang mutlak, baik pengenalan teologis, maupun pengenalan metafisis. Ia tidak lagi mau melacak asal dan tujuann terakhir seluruh alam semesta ini, atau melacak hakikat yang sejati dari segala sesuatu yang berada di belakang segala sesuatu. Sekarang orang berusaha  menemukan hokum-hukum kesamaan dan urutan yang terdapat pada fakta-fakta yang telah dikenal atau disajikan kepadanya, yaitu dengan pengamatan dan dengan memakai akalnya. Pada zaman ini pengertian “menerangkan” berarti fakta-fakta yang khusus dihubungkan dengan suatu fakta yang umum saja. Tujuan  tertinggi dari zaman ini akan tercapai, bilamana segala gejala telah dapat disusun dan diatur  dibawah satu fakta yang umum saja (umpamanya: gaya berat)
Seperti yang telah dikemukakan diatas, hukum dalam 3 zaman atau 3 tahap  ini bukan hanya berlaku bagi perkembangan rohani seluruh umat manusia, tetapi juga berlaku bagi tiap orang sendiri-sendiri. Umpamanya: sebagai kanak-kanak orang adalah seorang teolog, sebagai pemuda jadi seorang metafisikus dan sebagai orang dewasa ia adalah seorang fisikus.
Di samping itu hukum dalam 3 zaman juga berlaku di bidang ilmu pengetahuan sendiri. Segala ilmu pengetahuan semula dikuasai oleh pengertian-pengertian teologis, sesudah itu dikeruhkan oleh pemikiran metafisis, dan akhirnya tiba dizaman hukum-hukum positif yang cerah.








BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Secara umum perbedaan antara filsafat dengan ilmu yaitu: Ilmu berhubungan dengan lapangan yang terbatas, filsafat mencoba berhubungan dengan keseluruhan pengalaman untuk memperoleh suatu pandangan yang lebih komprehensif tentang sesuatu.
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu, dengan mencari sebab-sebab terdalam, berdasarkan kekuatan pikiran manusia sendiri. Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan mengenai suatu hal tertentu (objek atau lapangannya), yang merupakan kesatuan yang sistematis, dan memberikan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan menunjukkan sebab-sebab hal itu. Jadi berarti ada metode, ada sistem, ada satu pandangan yang dipersatukan (memberi sintesis), dan yang dicari ialah sebab-sebabnya.
Apakah kita sudah menyadari hakikat diri kita sendiri, kerendah-hatian ataupun kesombongan kita ? Maka teruslah berfikir, tanpa harus menghilangkan keyakinan-keyakinan yang sudah ada. Hanya berfikir jernih terhadap sesuatu yang telah diyakini bukanlah sesuatu yang tabu apalagi dosa. Semoga kita masih menjadi manusia yang tak segan untuk berfikir dan bertanya. Manusia hanya berhak berteori dan berusaha mencari, tapi sesungguhnya apakah, dimanakah dan milik siapakah kebenaran tersebut? Madzhab Positivisme mendapatkan kritikan dan sanggahan yang berat dari pendukung-pendukungnya sendiri, di bawah ini akan diungkapkan sebagian dari kritikan-kritikan mereka: Teori evolusi dan tiga tahapan dari Agust Comte sama sekali tidak memiliki bukti sejarah yang otentik dan argumen keilmuan yang akurat, landasan ketidak benaran teori tersebut adalah karena menghubungkan tahapan-tahapan sejarah dari sistem masyarakat Eropa pada zaman itu dan kemudian menggeneralisasikan pada seluruh tahapan sejarah dunia. Di samping itu, dalam filsafat ilmu kontemporer para ilmuwan telah membahas dan mengkaji tentang kebutuhan ilmu terhadap filsafat dan pengaruh metafisika terhadap teori-teori ilmu. Demikian pula asas Positivisme tentang tolok ukur kebenaran proposisi yang menetapkan bahwa proposisi hanya memiliki makna (kebenaran) apabila dapat dieksperimenkan dan diobservasi. Dan proposisi-proposisi yang non-empiris dikatakan tidak bermakna sebenarnya tidak berangkat dari asas analisis dan tautologi (kebenarantampak dari dirinya sendiri) dan juga bukan berdasarkan sintetis yang dapat dibuktikan dengan penyaksian dan eksperimen. Kaum Positivisme memandang bahwa seluruh proposisi-proposisi metafisika tidak bermakna; padahal sebagian dari proposisi tersebut bersifat analitik,seperti: setiap akibat membutuhkan sebab; sedangkan menurut merekaproposisi-proposisi analitik adalah bermakna.
B.     Saran
Kami berharap mahasiswa/I khususnya dapat memahami antara metologi, filsafat, serta ilmu pengetahuan. Mungkin dengan sedikit pemabahasan dari makalah ini dapat membantu mahasiswa/I khususnya dalam memahami tentang ilmu tersebut. Dan seiring itu juga kami harapkan kritik dan saran dari para pembaca agar makalah kami kedepannya bisa lebih sempurna. Sekian dan terimakasih.



                                                                                   

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.